Monday, November 16, 2009

The Truth About Cicak and Buaya

Setiap kali membaca koran, kata cicak dan buaya terasa agak mendominasi – sebab mereka sudah menjadi istilah umum buat menggambarkan perseteruan antara KPK dan Mabes Polri. Tentu saja eufisime begitu terasa sangat cocok sebab dalam dunia nyata – meski keduanya dimasukkan ke dalam keluarga reptil - cicak tembok ogah bertarung melawan seekor buaya. Sebaliknya mereka menyadari peranan masing-masing dan patuh pada hukum alam.

Saya sih tidak takut cicak, gak seperti kawan saya yang suka histeris melihat reptil mini gemuk berkepala membulat dan kulit transparan itu. Bisa dibilang, kita di sini hidup harmonis dengan cicak, mereka kerap ditemui di sekitar dapur, kamar mandi dan lemari makan, atau sedang tenggelam dalam gelas kopi. Nah, kalau buaya – saya memang cuma pernah melihatnya beberapa kali di kebun binatang. Ia tak menarik – hanya diam berjam-jam dengan mulut terbuka, tak merasa terganggu dengan hiruk pikuk pengunjung anak-anak yg mencoba melemparinya dgn batu atau ranting kering. Barangkali ia kenyang, sebab petugas kebun binatang tak pernah alpa memberinya makan.

Yang membuat buaya lebih menarik adalah bahwa ada jauh lebih banyak citra yg diberikan padanya ketimbang cicak. Buaya darat identik dengan lelaki playboy. Roti buaya menjadi salah satu simbol yang wajib hadir dalam acara pernikahan adat Betawi – alasannya; secara biologis buaya adalah hewan monogamis, setia pada satu pasangan sampai mati – roti buaya menjadi lambang kesetiaan dalam perkawinan tersebut. ’Lantas kenapa buaya darat bisa berarti sebaliknya?’ – seorang kawan yg asli Betawi berbisik; sebab lelaki Betawi tukang kawin. Saya cuma bisa ketawa garing dengan satir stereotipe etnis macam begitu.

Namun hidup memang tak adil, bukan. Tidak hanya pada etnis tertentu, juga buat buaya. Namanya kadung dilekatkan dengan penjahat cinta, bahkan air matanya setali tiga uang dengan kepalsuan. Kalau bisa memprotes, barangkali mereka sudah mendatangi lembaga advokasi hak-hak kebuayaan. Barangkali cuma si crocodile hunter Steve Irwin yang – bila masih hidup – akan membela hak asasi buaya. Sebaliknya, cicak lekat dengan lagu anak-anak. Tak ada dompet kulit cicak dijual di emperan kaki lima sampai mall kelas atas, yg ada hanya dompet dan tali pinggang kulit buaya. Saya kira hanya lidah buaya saja yang tak bermakna negatif.

Entah kenapa, saat ngomongin cicak dan buaya, saya kok jadi teringat film lawas (kalau gak salah keluaran tahun 1974) garapan sutradara Nya Abbas Akub yg dibintangi oleh Bing Slamet, Eddy Sud, Ateng dan Iskak berjudul Koboi Cengeng, sebab salah satu tokohnya bernama Cicak bin Kadal. Nah, lucunya ada kawan yang katanya setiap dengar kata cicak dan buaya hanya bisa teringat pada sepatu sandal Crocs dan celana dalam merek Crocodile a.k.a cap buaya mangap. Barangkali karena dia anak mall.
(gambar diambil di sini)

Tuesday, November 10, 2009

Patung Pahlawan

Di Malioboro, patung jendral besar Sudirman masih berdiri. Malioboro sendiri sudah begitu berubah. Andong hanyalah kendaraan utk wisatawan, sementara gak ada lagi pedestrian utk berjalan kaki dgn nyaman sebab sudah diembat parkiran. Hotel, mall dan depsto bersaing mengubah facade bangunan menjadi modern. Namun patung jendaral Sudirman masih di sana, gak berubah.

Konon, saat negeri ini masih merasakan euforia kemerdekaan, banyak mantan pejuang yg terlihat berdiri di depan patung itu. Bukan utk memberi hormat, melainkan utk merasakan ’kedekatan’ dgn suatu masa; masa di mana kejayaan dan kemuliaan adalah bagian dari sehari-hari, masa perjuangan kemerdekaan.

Skluptur itu memang didirikan gak lama setelah kemerdekaan. Figur patung itu sederhana saja, sosok kurus pak Sudirman dgn mantel panjangnya (beda dgn profil pahlawan dlm bayangan saya, gagah spt pangeran Diponegoro yg pernah diperankan Ratno Timoer dlm film Pahlawan dari gua selarong). Wajah patung pak Sudriman juga tidak digambarkan arogan atau berwibawa; melainkan pasrah. Tentunya si pematung – siapapun ia – membayangkan kondisi jendral besar itu di akhir perang gerilya, TBC kronis sehingga harus ditandu.

Sebenarnya apa sih maknanya monumen? Kebayang gak enam puluh empat tahun setelah kemerdekaan kita masih bisa membuat patung sesederhana itu. Sebab monumen semacam patung pak Dirman itu - di masa ini hampir tidak mewakili apapun. Hampir gak ada perasaan bergetar, terharu atau sejenisnya dlm diri setiap kali melihatnya, krn memang masa ini sudah terlalu jauh.

Saya datang dari generasi yg hampir gak pernah merasakan adanya usaha apapun utk menghargai kesederhanaan – bahkan di tingkat simbol sekalipun. Saya datang dari zaman perayaan jor-joran. Bila sebuah monumen didirikan, maka ia haruslah mempunyai begitu banyak ornamen sbg cerminan besarnya biaya pembuatannya (juga besar biaya yg dikorup). Patung, skluptur, monumen atau apapun di masa ini adalah wacana buat memperingati kenangan kita sendiri – krn itu citranya juga harus disesuaikan dgn ambisi utk mendapatkan kehormatan (sekaligus kekhawatiran utk tidak dihormati).

But; let the statue be the statue.
Patung Jendral Sudirman masih berdiri, kok.

Wednesday, September 16, 2009

ON FREEDOM

Freedom is a terrible thing. With it comes the realization that your fate depends on you. It brings you face to face with your (in)capabilities.

Kalimat itu kutipan dari sms seorang kawan. Meski gak terlalu relevan, ia mengingatkan saya pd parodi hari raya; hari kemenangan, hari kebebasan.

Pada hari itu saya bisa bebas dari berpayah-payah menahan lapar dan haus, menahan keinginan untuk menilai orang lain dan - yg terberat - menahan diri supaya gak misuh-misuh selama sebulan. Ada anekdot bhw hari kemenangan berarti waktunya buat balas dendam. Sholat Ied menjadi tempat pamer mukena baru, meski yg lama masih bagus lantaran jarang dipakai buat sholat lima waktu. Juga tak perlu mendengarkan kotbah sampai selesai sebab ketupat opor dan sambal goreng ati yg sudah keburu harus dipanasi sebelum tamu-tamu datang. Kemudian menyambangi rumah kerabat dan kawan cuma buat membikin lidah orgasme atas segala macam penganan berkolesterol dan bergula yg ditawarkan, lantas ngomongin di belakang kalau kurang enak atau mengeluarkan pisuhan kebun binatang kalau tak kebagian.

Hari raya Idul fitri menjadi begitu menarik sebab tidak cuma sarat arti religius, namun juga menjadi inti dari semangat kebebasan; tentu bukan bebas dari keharusan berpuasa melainkan bebas dari kebodohanyg membikin kita miskin dan enggak berdaya saat ada kesewenang-wenangan bersliweran di depan mata. Cuma yg membikin makna ini jadi mirip parodi adalah semangat itu sering hilang cuma karena banyak yg susahnya menerima toleransi terhadap keberadaan ’yang lain’ dan membuatnya menjadi bagian dari sehari-hari, pdhal buat saya inilah kemenangan sesungguhnya. Organisasi agama dan kaum puritan melulu bersitegang atau memakai kekerasan cuma supaya sebuah perbedaan enggak terjadi, dan saya kira ini masalah harga diri. Harga diri yg lantas membikin lupa tanggung jawab sosial yg sebenarnya. Barangkali toleransi memang hanya ada sebatas simbol, sebab masjid Istiqlal yg megah itu dirancang oleh seorang non muslim bernama Frederick Silaban.


This is a repost

Thursday, August 27, 2009

Brain, Beauty and Behaviour

Kalau tidak salah, motto tersebut milik kontes putri Indonesia yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Artika Sari Dewi, putri Indonesia 2004, pernah menambahkan kata BRAVE dibelakangnya. Apapun maksudnya, kata itu masih terdengar seirama – jadi buat saya oke-oke saja meskipun tetap enggak paham.

Minggu lalu, waktu membuka-buka sebuah majalah wanita, saya tertarik pada sebuah kolom. Dalam kolom itu, beberapa perempuan dengan kisaran umur 20 sampai 35, lajang maupun menikah diminta memilih mana yang lebih penting: BRAIN, BEAUTY atau BEHAVIOUR. Jawaban mereka tentu saja bermacam-macam. Salah satu menjawab kira-kira begini: BEAUTY lebih penting, karena seseorang dengan (good) brain dan (well) behaviour , tidak akan dilirik kalau tidak cantik. Saya kira, saya setuju dengannya. Mmm.. mungkin hampir setuju kalau kemudian saya tidak ingat dua orang yang cukup dekat dengan saya.

Teman perempuan saya, otaknya sangat cerdas. Dia lebih muda daripada saya, tapi karena pengetahuannya yang begitu kaya, saya tidak pernah segan bertanya apa saja kepadanya. Dia juga tidak pernah segan membagikan pengetahuan luasnya tentang politik, ekonomi, sastra, dan semacamnya kepada siapa saja. Kecantikannya berbeda dengan versi yang populer di masyarakat (baca: putih, tinggi, langsing dan indo).

Sepupu saya, tingginya 171 cm, berkaki panjang dan sangat langsing. Dia bukan indo, tapi kulitnya putih dan hidungnya mancung. Dia teman ngobrol yang enak, dan dia juga sangat informatif kalau kamu bertanya atau minta saran mengenai tas, baju, sepatu, rebonding, hair and body spa, dan semacamnya. Pengetahuan luasnya tentang berbagai jenis merk dan harga barang, berbeda dengan versi cerdas yang populer di masyarakat (baca: mengerti politik, penggemar sastra klasik, bicara dengan pilihan kata yang canggih)

Keduanya punya BEHAVIOUR yang baik. Kalau keduanya datang berbarengan dalam sebuah acara – katakanlah pesta ultah, siapa kira-kira yang akan dilirik pertama kali oleh yg hadir dalam acara itu? Kalau keduanya datang berbarengan dalam sebuah acara – katakanlah bedah buku, siapa kira-kira wawasan siapa yang akan menarik perhatian peserta lain?

BRAIN, BEAUTY and BEHAVIOUR. Saya kira hanya masalah tempat, waktu, dan audience. Kalau kemudian ketiga kata itu menjadi motto dalam kontes putri-putrian, itu karena ia memang cocok sebagai sebuah motto, tidak lebih. Saya jadi bertanya-tanya. Apa kira-kira yang bisa menjadi motto dalam kontes putra-putraan? Mungkin BRAIN, BODYSHAPE, BEHAVIOR dan BE A MAN NOT A BUTCH*??!!


*Butch : sebutan slank untuk pasangan homoseksual yang karakter maskulin-nya lebih kuat.

Monday, August 03, 2009

Being Nice Is Not That Hard

Suatu siang di Jakarta, saya menumpang mobil seorang kawan. Saat melewati gerbang tol, ia membuat saya terheran-heran. Sebab ia membayari juga mobil dibelakangnya. Tentu saja saya bertanya, dan jawabannya membikin saya lebih heran lagi. Katanya ia tak tahu siapa empunya mobil dibelakang itu, ia hanya suka berbuat baik. Ia senang membayangkan wajah pengemudi tak dikenal itu bahagia karena tak perlu lagi membayar.

Dalam hati saya meledek; ’konyol ah!’. Tentu saja saya begitu karena tak terima. Sebab saya malas mengakui kalau kawan saya itu orang baik. Soalnya, saya pernah mencoba berbuat baik juga, tetapi malah ditertawakan. Misalnya, saat makan di restoran burger, saya berinisiatif membuang bungkus burger dan gelas karton ke tempatnya – mencoba berempati pada pelayan restoran. Tak ada pujian, malah kawan-kawan saya bilang saya kebarat-baratan – ’halah...tiru-tiru bule lo’ kata mereka sambil meninggalkan nampan-nampan penuh sampah di meja.

Kali lain, saat naik mobil, kawan yg mengemudi membunyikan klakson keras-keras sambil menyumpah pada sopir angkot yang menyalipnya. Saat itu saya mencoba berempati pada sopir angkot dgn mengatakan pada kawan saya; ’dia kan lagi ngejar setoran, lo kan enggak’. Dan kawan itu memandang saya dgn tatapan aneh. Barangkali seaneh tatapan saya pada teman yg membayari tol untuk mobil di belakangnya tadi.

Berbuat baik sering jadi dilematis. Ada kawan yg ogah membantu orang yg kecelakaan. Alasannya, takut nanti malah berurusan dgn polisi. Kalau ketemu polisi, ujung-ujungnya duit juga. Makanya meski kesal, saya tak marah pada orang di depan saya yg membuka pintu bank dan lebih suka menghempaskannya ketimbang menahannya sebentar, meski tahu ada orang lain di belakangnya. Saya pun tak mencoba menegur mahasiswa yg terus duduk di bangku bis padahal di dekatnya ada simbok sayur yg kehabisan tempat duduk, berdiri tanpa bisa berpegangan karena keduanya tangannya sibuk memegangi bakulnya. Saya juga hanya bisa membathin bila melihat anak kecil membuang sampah di jalan, karena saya tahu ia tak salah. Ia cuma tak mengerti, sebab orang tuanya tak pernah memberi tahu.

Saya percaya bahwa berbuat baik tak bisa disuruh. Hal begitu cuma bisa dilakukan saat ada kesadaran pribadi. Saya bisa saja menceramahi atau memberi tahu orang lain buat tidak menyampah sembarangan, tidak menyumpahi orang lain, tidak merokok di depan anak-anak, dan segala hal tentang perbuatan moral lainnya. Hanya saja itu tak terlalu berguna. Yang saya tahu, kesadaran tentang moral timbul setelah melihat kebaikan yg dilakukan orang lain, bukan yg diucapkan. Pada teman saya yg berbuat kebaikan di jalan tol itu, ada keinginan buat meniru apa yang dilakukannya; membayari tol buat kendaraan tak dikenal di belakangnya. Persoalannya cuma satu; Jogja tak punya jalan tol